Pernahkah Anda membayangkan sebuah bukit batu raksasa yang berdiri tegak sendirian di tengah hamparan dataran luas, menyimpan kisah cinta tragis yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad lamanya?
Itulah Bukit Kelam, sebuah monolit perkasa di Sintang, Kalimantan Barat, yang bukan hanya memukau dengan bentuknya yang unik tetapi juga memancarkan aura mistis dari legenda yang melekat erat pada setiap lekuk batunya.
Bukit Kelam yang menjulang tinggi hingga 1.002 meter di atas permukaan laut ini memang tampak seperti raksasa tidur yang enggan beranjak, menarik perhatian siapa saja yang melintas di sekitarnya dengan keanggunan alaminya.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
ICP DAS-BMP Pamerkan Inovasi TPU Medis di Ajang Medical Manufacturing Asia 2026
LX Pantos Indonesia Tingkatkan Komitmen CSR dengan Merenovasi Sekolah di Bekasi

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asal-Usul Nama dan Legenda yang Melekat
Meskipun namanya “Kelam” menyiratkan kegelapan atau misteri, bukit ini justru menawarkan pemandangan spektakuler, terutama saat matahari terbit atau terbenam yang menyelimuti puncaknya dengan nuansa keemasan.
Nama “Kelam” sendiri dipercaya berasal dari bahasa Dayak setempat, yang merujuk pada bayang-bayang gelap selalu menyelimuti sebagian sisi bukit karena ukurannya yang masif.
Baca Juga:
WYF Himpun Lebih dari 400 Pelajar dalam Ajang Future Liberal Arts Leadership Summit di Makau
Melestarikan Adat Dayak Kanayatn: Harmoni Leluhur di Tengah Gempuran Modernitas
Namun, di balik nama dan pesona alamnya, terdapat sebuah legenda yang jauh lebih menarik, mengisahkan pertarungan dahsyat antara dua tokoh sakti mandraguna, Patih Lohgender dan Bujang Beji.
Kisah tersebut bermula dari ambisi Patih Lohgender untuk memindahkan bukit ke tengah kota, sebuah tugas yang diyakini akan memberikan kekuasaan dan pengakuan luar biasa baginya.
Ia menggunakan rotan raksasa untuk mengikat bukit, berencana menariknya dengan kekuatan magisnya, menunjukkan betapa besarnya ambisi yang membara dalam dirinya.
Namun, di tengah usahanya yang gigih, Patih Lohgender harus berhadapan dengan Bujang Beji, seorang pemuda sakti yang tidak setuju dengan pemindahan bukit tersebut, karena dapat merusak keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat setempat.
Baca Juga:
Menjawab Pertumbuhan Pariwisata, Archipelago Hotels Terus Berkembang Menjangkau Beragam Pasar
Coway Raih Penghargaan IDEA Design Awards 2026, Lengkapi “Grand Slam” Desain Internasional
Bujang Beji, yang memiliki kekuatan setara, berusaha menggagalkan rencana Patih Lohgender, memicu pertarungan sengit yang melibatkan kekuatan gaib dan sihir kuno.
Pertempuran epik tersebut berlangsung selama berhari-hari, menciptakan guncangan hebat di seluruh wilayah, dan meninggalkan jejak-jejak yang kini masih bisa dilihat dalam bentuk formasi bebatuan unik di sekitar Bukit Kelam.
Konon, saat pertempuran mencapai puncaknya, Bujang Beji berhasil memotong rotan yang digunakan Patih Lohgender, menyebabkan bukit jatuh kembali ke tempatnya dengan dentuman maha dahsyat.
Gema dari peristiwa tersebut dipercaya telah menciptakan berbagai ngarai dan lembah di sekitar bukit, menjadi saksi bisu dari pertarungan para raksasa yang tidak terlukiskan kekuatannya.
Pesona Alam dan Potensi Wisata
Terlepas dari legenda yang menyelimutinya, Bukit Kelam saat ini menjadi destinasi wisata alam yang menjanjikan, menawarkan pengalaman mendaki yang menantang bagi para petualang sejati.
Jalur pendakian yang curam dan berbatu memang menguji fisik, tetapi pemandangan alam dari puncaknya yang luas akan membayar lunas setiap tetes keringat yang dikeluarkan.
Dari puncak Bukit Kelam, pengunjung dapat menyaksikan hamparan hutan tropis yang hijau membentang sejauh mata memandang, serta aliran Sungai Melawi yang berkelok-kelok anggun di kejauhan.
Bagi mereka yang tidak ingin mendaki, kawasan kaki bukit juga menawarkan pesona tersendiri dengan adanya air terjun dan gua-gua alami yang menarik untuk dieksplorasi.
Air terjun di kaki Bukit Kelam, misalnya, menjadi tempat ideal untuk menyegarkan diri setelah perjalanan panjang, atau sekadar menikmati ketenangan suara gemericik air yang menenangkan jiwa.
Gua-gua di sekitar bukit juga menyimpan keindahan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun, menciptakan formasi artistik yang luar biasa menakjubkan.
Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat berupaya keras mengembangkan potensi wisata Bukit Kelam, menjaga kelestarian alamnya, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Dayak yang ada di sekitarnya.
Beberapa fasilitas pendukung seperti area parkir, pusat informasi, dan warung makan sederhana telah dibangun, memastikan kenyamanan pengunjung tanpa merusak keaslian alam.
Bukit Kelam bukan hanya sekadar gundukan batu raksasa, melainkan sebuah monumen alam yang hidup, menyimpan memori kolektif masyarakat, dan siap berbagi kisah serta keindahan kepada siapa saja yang bersedia datang dan mendengarkan.
Jadi, jika Anda mencari petualangan yang tidak hanya memanjakan mata tetapi juga memperkaya jiwa dengan cerita-cerita masa lalu, Bukit Kelam di Sintang adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda berikutnya.
Mari kita jaga bersama keindahan dan legenda Bukit Kelam, agar kisah Patih Lohgender dan Bujang Beji tetap hidup, menginspirasi generasi mendatang untuk selalu menghargai alam dan warisan budaya.







