Pernahkah Anda membayangkan sebuah bongkahan batu raksasa melayang di angkasa, berpindah ribuan kilometer jauhnya dari tempat asalnya, kemudian jatuh di suatu wilayah yang kini menjadi bagian dari Indonesia?
Inilah gambaran awal dari legenda Bukit Kelam, sebuah monolit purba yang menjulang megah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, menawarkan pemandangan alam sekaligus misteri yang memikat banyak orang.
Bukit Kelam, dengan ketinggian sekitar 1.002 meter di atas permukaan laut, bukan sekadar gugusan batu biasa, melainkan sebuah formasi geologi unik yang telah menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat setempat selama berabad-abad.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Savaya Group Hadirkan Zumana, Destinasi Baru di Pesisir Kuta Bali
Trinasolar Dukung Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi 10 MWh di Phu Quoc, Vietnam
Pesona Dayak Kanayatn: Menjaga Tradisi di Tengah Derasnya Perubahan Zaman

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para peneliti geologi mengidentifikasi Bukit Kelam sebagai monolit terbesar di dunia, bahkan mengalahkan Monolith Uluru di Australia, sehingga menjadikannya objek studi yang menarik secara ilmiah.
Namun, di balik keunikan geologisnya, masyarakat Dayak setempat mewariskan sebuah cerita turun-temurun yang menjelaskan asal-usul Bukit Kelam dengan sentuhan mitologi nan memukau.
Konon, pada zaman dahulu kala, ada dua sosok sakti yang sangat berpengaruh di wilayah tersebut, yaitu Bujang Beji yang berbadan besar dan Laja Betuah yang merupakan seorang pangeran dengan kekuatan spiritual tinggi.
Kisah dimulai ketika Bujang Beji, dengan keserakahannya yang tak terbatas, berencana membangun sebuah bendungan raksasa di Sungai Melawi menggunakan batu-batu besar yang ia kumpulkan dari berbagai tempat.
Salah satu batu yang ingin ia gunakan adalah batu besar dari Nanga Jemah, yang kemudian diangkat dan dipikulnya seorang diri melewati hutan belantara menuju lokasi pembangunan bendungan.
Perjalanan Bujang Beji yang membawa beban berat itu tidak luput dari pengamatan Laja Betuah, yang merasa khawatir bahwa pembangunan bendungan tersebut akan membawa malapetaka bagi desanya.
Laja Betuah akhirnya memutuskan untuk menghentikan Bujang Beji dengan segala cara, karena ia menyadari bahwa tindakan serakah itu akan membanjiri permukiman penduduk di sekitar sungai.
Baca Juga:
Rahasia Warisan Nenek Moyang: Melayu Merawat Diri dengan Ramuan Herbal Alami
YADEA Perluas Jangkauan Pasar di Filipina dengan Membuka Tiga Gerai Flagship Baru di Cebu
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Laja Betuah kemudian mengubah suasana siang hari yang cerah menjadi malam gelap gulita secara tiba-tiba, menciptakan kebingungan bagi Bujang Beji yang tengah memikul batu.
Bujang Beji, yang terkejut karena mengira hari sudah malam, akhirnya menjatuhkan batu besar yang sedang dipikulnya di suatu tempat, karena ia percaya bahwa tidak baik melanjutkan perjalanan saat gelap.
Batu besar yang dijatuhkan Bujang Beji itulah yang kemudian dipercaya sebagai asal mula terbentuknya Bukit Kelam, sebuah monolit raksasa yang kini berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu legenda tersebut.
Nama “Kelam” sendiri diyakini berasal dari peristiwa kegelapan yang diciptakan oleh Laja Betuah, yang secara harfiah menggambarkan suasana malam yang tiba-tiba melanda pada saat itu.
Keindahan Alam dan Tantangan Petualangan
Terlepas dari kisah mitologinya yang menawan, Bukit Kelam juga menawarkan pesona alam yang memukau bagi para pengunjung yang haus akan petualangan dan keindahan.
Dikelilingi oleh hutan tropis yang rimbun, bukit ini menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik Kalimantan, termasuk anggrek langka dan satwa liar yang dilindungi.
Bagi para pendaki, Bukit Kelam menyajikan tantangan yang menarik dengan jalur pendakian yang curam dan memerlukan stamina prima untuk mencapai puncaknya yang menawan.
Anda bisa menikmati panorama alam Kabupaten Sintang dari ketinggian, melihat hamparan hijau hutan yang membentang luas, serta merasakan sensasi berada di puncak sebuah monolit raksasa.
Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus melewati sekitar 700 anak tangga yang sebagian besar masih alami, memadukan elemen petualangan fisik dan pengalaman spiritual yang mendalam.
Setiap langkah mendaki terasa seperti menelusuri jejak-jejak masa lalu, membayangkan Bujang Beji memikul batu raksasa di tengah kegelapan yang diciptakan Laja Betuah.
Pengalaman mendaki Bukit Kelam bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan juga tentang menikmati perjalanan, mengagumi keindahan alam, dan meresapi setiap kisah yang terkandung di dalamnya.
Saat ini, pemerintah daerah dan masyarakat setempat terus berupaya mengembangkan Bukit Kelam sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan, tanpa mengorbankan kelestarian alam dan nilai-nilai budayanya.
Pengelolaan yang bijaksana diharapkan dapat menjaga keaslian bukit ini, sehingga generasi mendatang masih bisa menikmati keindahan dan meresapi legenda yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mempertimbangkan untuk mengunjungi Bukit Kelam adalah sebuah keputusan yang bijak jika Anda mencari kombinasi antara petualangan alam yang menantang dan eksplorasi budaya yang kaya akan cerita.
Bukit Kelam adalah pengingat bahwa keindahan alam seringkali terjalin erat dengan legenda dan kepercayaan lokal, membentuk identitas suatu tempat yang tak akan lekang oleh waktu.
Jadi, apakah Anda siap untuk menantang diri, mendaki puncak monolit terbesar ini, dan menyelami sendiri kisah di balik kegelapan yang menyelimuti asal-usulnya?






